Puskomda Semarang Raya
Minggu, 07 Februari 2016
Jumat, 02 Agustus 2013
GEBYAR VARIASI PENYAMBUTAN RAMADHAN 1434 H
Ketika terdengar dering telepon menyeringai
merdu masuk ke dalam porus telinga, lalu diangkatlah telepon itu. Kemudian
barulah semua tahu, bahwa suara di sana menyebut dan memperkenalkan diri dengan
nama yang tak asing bagi mereka. Bahwasanya tiap tahun ia pasti akan pulang
kampung untuk bertemu dengan saudara-saudara ummat muslim sedunia.
“Assalamu’alaykum, namaku RAMADHAN. Aku
akan segera datang satu bulan lagi.”
Tut tut tut. Dan jaringan telepon itu
akhirnya terputus, maka hal apa yang akan kalian lakukan selanjutnya untuk
menyambut kedatangan tamu spesial yang bernama RAMADHAN itu?
A : “Aku nanti mau bersih-bersih kos.”
B : “Aku nanti mau membuat karnaval
penyambutan ramadhan yang paling meriah bersama teman-teman di kampus.”
C : “Aku nanti mau masak makanan spesial
untuk buka bersama keluarga.”
D : “Aku nanti mau berjualan es atau
jajanan untuk buka bersama.”
E : “Aku nanti mau meningkatkan ibadah
yaumiyahku.”
F : “Aku nanti mau puasa satu bulan penuh.”
G : “Aku mau bertaubat dengan
sungguh-sungguh dan meninggalkan kema’siatanku selama ini dan tidak akan pernah
mau mengulanginya lagi, insya Allah.”
H : “Lalu aku, ngapain?”
I : “Aku gak mau ketemu RAMADHAN. Aku
pokoknya gak mau ketemu RAMADHAN.” Teriaknya nyaring.
J : “Kenapa?”
I : “Hal itu akan menyedihkanku. Salah satu
keluargaku telah tiada, dan hal itu akan membuatku merasa ada yang kurang dalam
keluargaku, sehingga aku takut nanti selama satu bulan itu aku hanya menangis
dan tiada merasakan ni’mat bersua dengan RAMADHAN lagi.”
J : “Kesedihanmu itu tidak masuk akal.
Terimalah RAMADHAN sebagai apapun itu yang akan menemanimu, yang menggantikan
orang-orang tercinta yang telah meninggalkanmu sebelumnya. Sebab, ketika kamu
murung mengingat-ingat masa kepergian orang tercinta itu, maka seolah kamu
tidak mau menerima takdir Allah atas hidup dan matinya manusia sebagai
makhlukNya. Ayo, ceria lagi, semangkA (semangat karena Allah) J
K : “Memangnya kalian yakin akan bertemu
dengan RAMADHAN satu bulan lagi? Bagaimana kalau salah satu dari kita ada yang
pergi mendahului kehadiran RAMADHAN itu sendiri?”
Demikianlah bentuk curahan hati beberapa
ummat muslim dalam mengungkap isi hati mereka menyambut bulan suci RAMADHAN
yang penuh ceria. Beberapa waktu yang lalu, ada yang pernah berkata.
“Tadi pagi aku lewat kampus itu, di sana
ada keramaian. Ada tulisan karnaval menyambut RAMADHAN. Memangnya untuk apa
sampai-sampai RAMADHAN harus disambut? Toh, tanpa disambut pun ia akan datang
juga.”
Itu bentuk dari rasa suka cita sebagian
ummat yang ingin menimba pahala dari event spesial yaitu bulan suci RAMADHAN.
Ketika bulan ini datang, semua orang berbondong-bondong melakukan ibadah
(berfastabiqul khoirot).
“Apa ‘tidak sama aja bohong’ kalau ibadah
hanya pas bulan RAMADHAN sedang setelah itu berbuat ma’siat lagi?”
Setidaknya, ketika ia sudah berniat
melakukan ibadah, para malaikat telah mencatat niat baik tersebut menjadi suatu
nilai pahala yang telah dilipatgandakan dengan takaran Allah SWT. Kemudian jika
ia hendak berbuat buruk, setidaknya ia akan berpikir dua kali, untuk akan
melakukan hal buruk itu atau tidak usah dilakukan setelah selama ini ia berbuat
baik. Dan ketika hal buruk itu sampai sudah dilakukan, semoga saja setelah itu
ia langsung bertaubat dengan memulai mengucap istighfar dan kemudian bertaubat
setaubat-taubatnya lalu meninggalkan perbuatan buruk itu.
“Baiklah, aku sepakat.”
Lalu terlontar pula dengungan perkataan
yang lain.
“Ada seorang teman dengan ceria bilang,”
Hore, sebentar lagi hari raya.” Lalu teman yang lain menimpali,” Wong RAMADHAN
wae durung, kok hari raya?” Dan teman yang lain lagi menambahi,” Emang kalian
yakin bisa melewati RAMADHAN tahun ini?” kemudian setelah itu semuanya diam.”
Demikianlah. Kalau kita sudah bersiap-siap
menyambut RAMADHAN dan akan menerimanya dengan hati penuh rasa suka cita pula,
lalu apakah kita siap juga jika ajal kita mendahuluinya? Maka sebelum semuanya
berakhir dengan kesedihan, alangkah lebih baik jika kita mempersiapkannya dari
awal, minimal mulai sebulan sebelum bulan RAMADHAN itu sendiri, yakni bulan
Sya’ban. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Yakni nabi SAW merutinkan puasa selama sya’ban. Bahkan beliau melakukan puasa sya’ban
sebulan penuh.
Dari A’isyah r.a, beliau mengatakan,
“Belum pernah Nabi SAW berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa
bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.”
(HR. Bukhari 1970 dan Muslim 1156)
Demikian
pula yang disampaikan Ummu Salamah r.a,
beliau mengatakan, “Saya belum pernah melihat Nabi SAW berpuasa dua bulan
berturut-turut selain di bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i 2175,
At-Turmudzi 736 dan dishahihkan Al-Albani).
Maka sebaiknya memulai ibadah di bulan
RAMADHAN dari bulan sya’ban terlebih dahulu. Agar kita lebih terbiasa dan tidak
merasa kaget ketika RAMADHAN itu benar-benar datang membawa kabar gembira
kepada ummat manusia sedunia.
Kemudian datang seorang lagi dengan
kebingungan di pikirannya.
“Aku kemarin puasa sunnah hari kamis, lalu
saudaraku mencela,” Sudah mau puasa RAMADHAN kok puasa sunnah. Seharusnya gak
boleh itu.” Tapi ada yang pernah bilang juga,” Sebaiknya tingkatkan ibadah dan
banyak-banyaklah berpuasa di bulan Sya’ban sebelum RAMADHAN untuk mempersiapkan
diri sedari dini.” Sedangkan besok senin sebelum RAMADHAN aku masih pengen berpuasa, jadi
bagaimana?”
Terdapat
hadist dari Abu Hurairah r.a, Nabi
SAW bersabda,“ Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah
berpuasa.”
(HR. Abu Daud 2337)
Dalam
hadis yang lain, yang juga dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda,“ Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan,
kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa sunnah, maka bolehlah ia
berpuasa.” (HR. Bukhari 1914 dan Muslim 1082).
Dari
kedua hadist di atas, kompromi
memungkinkan untuk dilakukan, dengan memahami bahwa hadis larangan puasa
berlaku untuk orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa sunnah. Sementara
keterangan untuk rajin puasa di bulan Sya’ban dipahami untuk orang yang
memiliki kebiasaan puasa sunnah, agar tetap istiqamah dalam menjalankan
kebiasaan baiknya, sehingga tidak terputus.” (Aunul Ma’bud, 6/330).
Maka
sudah jelas kan?
Bagaimana kita menyambut bulan yang indah
ini dengan apapun itu yang mampu menambah ibadah kita. Kemudian jika keinginan beribadah
itu sudah ada, lanjutkan dengan berniat karena Allah.
Semangat Ramadhan Istiqomah J
*yulia hafsah*
Langganan:
Komentar (Atom)

