Jumat, 02 Agustus 2013

GEBYAR VARIASI PENYAMBUTAN RAMADHAN 1434 H

Ketika terdengar dering telepon menyeringai merdu masuk ke dalam porus telinga, lalu diangkatlah telepon itu. Kemudian barulah semua tahu, bahwa suara di sana menyebut dan memperkenalkan diri dengan nama yang tak asing bagi mereka. Bahwasanya tiap tahun ia pasti akan pulang kampung untuk bertemu dengan saudara-saudara ummat muslim sedunia.
“Assalamu’alaykum, namaku RAMADHAN. Aku akan segera datang satu bulan lagi.”
Tut tut tut. Dan jaringan telepon itu akhirnya terputus, maka hal apa yang akan kalian lakukan selanjutnya untuk menyambut kedatangan tamu spesial yang bernama RAMADHAN itu?
A : “Aku nanti mau bersih-bersih kos.”
B : “Aku nanti mau membuat karnaval penyambutan ramadhan yang paling meriah bersama teman-teman di kampus.”
C : “Aku nanti mau masak makanan spesial untuk buka bersama keluarga.”
D : “Aku nanti mau berjualan es atau jajanan untuk buka bersama.”
E : “Aku nanti mau meningkatkan ibadah yaumiyahku.”
F : “Aku nanti mau puasa satu bulan penuh.”
G : “Aku mau bertaubat dengan sungguh-sungguh dan meninggalkan kema’siatanku selama ini dan tidak akan pernah mau mengulanginya lagi, insya Allah.”
H : “Lalu aku, ngapain?”
I : “Aku gak mau ketemu RAMADHAN. Aku pokoknya gak mau ketemu RAMADHAN.” Teriaknya nyaring.
J : “Kenapa?”
I : “Hal itu akan menyedihkanku. Salah satu keluargaku telah tiada, dan hal itu akan membuatku merasa ada yang kurang dalam keluargaku, sehingga aku takut nanti selama satu bulan itu aku hanya menangis dan tiada merasakan ni’mat bersua dengan RAMADHAN lagi.”
J : “Kesedihanmu itu tidak masuk akal. Terimalah RAMADHAN sebagai apapun itu yang akan menemanimu, yang menggantikan orang-orang tercinta yang telah meninggalkanmu sebelumnya. Sebab, ketika kamu murung mengingat-ingat masa kepergian orang tercinta itu, maka seolah kamu tidak mau menerima takdir Allah atas hidup dan matinya manusia sebagai makhlukNya. Ayo, ceria lagi, semangkA (semangat karena Allah) J
K : “Memangnya kalian yakin akan bertemu dengan RAMADHAN satu bulan lagi? Bagaimana kalau salah satu dari kita ada yang pergi mendahului kehadiran RAMADHAN itu sendiri?”
Demikianlah bentuk curahan hati beberapa ummat muslim dalam mengungkap isi hati mereka menyambut bulan suci RAMADHAN yang penuh ceria. Beberapa waktu yang lalu, ada yang pernah berkata.
“Tadi pagi aku lewat kampus itu, di sana ada keramaian. Ada tulisan karnaval menyambut RAMADHAN. Memangnya untuk apa sampai-sampai RAMADHAN harus disambut? Toh, tanpa disambut pun ia akan datang juga.”
Itu bentuk dari rasa suka cita sebagian ummat yang ingin menimba pahala dari event spesial yaitu bulan suci RAMADHAN. Ketika bulan ini datang, semua orang berbondong-bondong melakukan ibadah (berfastabiqul khoirot).
“Apa ‘tidak sama aja bohong’ kalau ibadah hanya pas bulan RAMADHAN sedang setelah itu berbuat ma’siat lagi?”
Setidaknya, ketika ia sudah berniat melakukan ibadah, para malaikat telah mencatat niat baik tersebut menjadi suatu nilai pahala yang telah dilipatgandakan dengan takaran Allah SWT. Kemudian jika ia hendak berbuat buruk, setidaknya ia akan berpikir dua kali, untuk akan melakukan hal buruk itu atau tidak usah dilakukan setelah selama ini ia berbuat baik. Dan ketika hal buruk itu sampai sudah dilakukan, semoga saja setelah itu ia langsung bertaubat dengan memulai mengucap istighfar dan kemudian bertaubat setaubat-taubatnya lalu meninggalkan perbuatan buruk itu.
“Baiklah, aku sepakat.”
Lalu terlontar pula dengungan perkataan yang lain.
“Ada seorang teman dengan ceria bilang,” Hore, sebentar lagi hari raya.” Lalu teman yang lain menimpali,” Wong RAMADHAN wae durung, kok hari raya?” Dan teman yang lain lagi menambahi,” Emang kalian yakin bisa melewati RAMADHAN tahun ini?” kemudian setelah itu semuanya diam.”
Demikianlah. Kalau kita sudah bersiap-siap menyambut RAMADHAN dan akan menerimanya dengan hati penuh rasa suka cita pula, lalu apakah kita siap juga jika ajal kita mendahuluinya? Maka sebelum semuanya berakhir dengan kesedihan, alangkah lebih baik jika kita mempersiapkannya dari awal, minimal mulai sebulan sebelum bulan RAMADHAN itu sendiri, yakni bulan Sya’ban. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Yakni nabi SAW merutinkan puasa selama sya’ban. Bahkan beliau melakukan puasa sya’ban sebulan penuh.
Dari A’isyah r.a, beliau mengatakan, “Belum pernah Nabi SAW berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Bukhari 1970 dan Muslim 1156)
Demikian pula yang disampaikan Ummu Salamah r.a, beliau mengatakan, “Saya belum pernah melihat Nabi SAW berpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i 2175, At-Turmudzi 736 dan dishahihkan Al-Albani).
Maka sebaiknya memulai ibadah di bulan RAMADHAN dari bulan sya’ban terlebih dahulu. Agar kita lebih terbiasa dan tidak merasa kaget ketika RAMADHAN itu benar-benar datang membawa kabar gembira kepada ummat manusia sedunia.
Kemudian datang seorang lagi dengan kebingungan di pikirannya.
“Aku kemarin puasa sunnah hari kamis, lalu saudaraku mencela,” Sudah mau puasa RAMADHAN kok puasa sunnah. Seharusnya gak boleh itu.” Tapi ada yang pernah bilang juga,” Sebaiknya tingkatkan ibadah dan banyak-banyaklah berpuasa di bulan Sya’ban sebelum RAMADHAN untuk mempersiapkan diri sedari dini.” Sedangkan besok senin sebelum  RAMADHAN aku masih pengen berpuasa, jadi bagaimana?”
Terdapat hadist dari Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda,“ Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Abu Daud 2337)
Dalam hadis yang lain, yang juga dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda,“ Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa sunnah, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari 1914 dan Muslim 1082).
Dari kedua hadist di atas, kompromi memungkinkan untuk dilakukan, dengan memahami bahwa hadis larangan puasa berlaku untuk orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa sunnah. Sementara keterangan untuk rajin puasa di bulan Sya’ban dipahami untuk orang yang memiliki kebiasaan puasa sunnah, agar tetap istiqamah dalam menjalankan kebiasaan baiknya, sehingga tidak terputus.” (Aunul Ma’bud, 6/330).
Maka sudah jelas kan?
Bagaimana kita menyambut bulan yang indah ini dengan apapun itu yang mampu menambah ibadah kita. Kemudian jika keinginan beribadah itu sudah ada, lanjutkan dengan berniat karena Allah.


Semangat Ramadhan Istiqomah J

*yulia hafsah*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar